Walisongo(ng) No..! Walisongo yes..!

BERSIKAP BIJAK PADA WALISONGO

Sobat, aku kira kita semua setuju bahwa Walisongo punya peran besar dalam menebar ajaran Islam, hingga kita pun  bisa menikmati diin yg dirahmati Allah ini.

Namun seringkali beliau -semoga Allah merahmati mereka- dijadikan kambing hitam atas berbagai macam ibadah yang tidak sesuai ajaran Nabi shallallahu 'alaihi wasallam. Mulai dari praktek musik, sekatenan, yasinan/tahlilan, ngalap berkah di kuburan, sesajen dll.

Kita tentunya sebagai muslim harus berprasangka baik terhadap peran Walisongo, karena sampai sekarang tidak ada bukti otentik ataupun cerita / kisah yang shahih, berbeda tentang berbagai cerita Sahabat, Tabi'in maupun Tabi'ut Tabi'in yang kisah-kisah mereka disampaikan oleh para ulama yang kuat hafalannya, baik akhlaknya, bisa dipertanggungjawabkan kredibilitasnya, serta saling bersesuaian isi ceritanya. Sedangkan kisah tentang walisongo ini tidak jelas siapa yang meriwayatkannya, terlebih lagi kredibilitasnya, apalagi hafalannya? Bahkan kebanyakan kisah tentang Walisongo adalah kisah yang telah banyak mengalami distorsi (pencemaran). Seperti kisah Sunan Kalijaga -rahimahullah- yang katanya menunggu tongkat yang ditancapkan oleh Sunan Bonang di tanah hingga bertahun tahun, dan Sunan Bonang pun lupa. Padahal menurut "Babad Tanah Jowo", Sunan Kalijaga itu masih saudara sepupu dengan Sunan Bonang, yang masa kecilnya pun telah Islam dan nyantri di Ampel Denta. Masak iya, orang Muslim bertapa (termasuk tidak sholat, tidak makan, tidak minum, tidak eek, tidak baca Al Quran)? Bukankah tidak masuk akal?

Walisongo acap kali dikambinghitamkan atas ritual sekatenan, yasinan, sesajen, gamelan, dan ritual bid'ah lain. Masyarakat hingga kini hanya mengambil ajaran ajaran diatas dari Walisongo, padahal dalam tubuh Walisongo sendiri terdapat khilaf (perbedaan). Ada yang menyetujui ritual ritual tersebut agar masyarakat mudah masuk Islam, ada pula yang tidak setuju seperti Sunan Giri yang pada Waktu itu beliau adalah Mufti Jawa. Jika ingin mencermati lagi, pada dasarnya Walisongo pun menginginkan Islam yang murni, namun apadaya pada saat itu masyarakat begitu jahil akan ilmu. Begitu pula sebenarnya Wali yang setuju dengan ritual tersebut berharap agar dikemudian hari para penerusnya bisa memperbaikinya (mengembalikan Islam yang Murni tanpa ritual tersebut).

Namun sepertinya para penerus sekarang lebih suka mempertahankan ritual tersebut dengan alasan warisan budaya walisongo. Bukankah jika demikian akan menjadi dosa Jariyah bagi Walisongo? Bukankah jika demikian para penerus ini adalah orang yang kejam yang rela menambah tumpukan dosa Walisongo?

Maka dari itu, aku rasa perlu membuat tulisan ini agar kita bisa membela Walisongo. Agar kita memperbaiki yang salah dari beliau, serta mendoakan beliau, bukan malah minta minta pada beliau. Dengan demikian, maka kita akan menambah amal sholeh jariyyah para Walisongo dan meneruskan apa yang menjadi tujuan Walisongo, yaitu mendakwahkan Islam semurni murni nya sesuai dengan Islam pada zaman Nabi shallallahu 'alaihi wasallam. Bukan malah mendakwahkan cara berdakwah Walisongo. Karena perlu diingat sobat, bahwa pada saat itu masyarakatnya sama sekali tidak mengenyam sekolah, sedangkan sekarang? Apakah anda rela mendakwahi kaum intelek dengan cara anda mendakwahi orang tidak berpendidikan? Bukankah jika demikian anda menganggap orang sekarang masih sama jahilnya (bodohnya) dengan orang jaman dahulu?

wallahu a'lam bisshowab
moga bermanfaat